Pesan Yesus untuk umat manusia Angelica Zambrano

 

Neraka Dan Surga
Lihatlah, Kenapa Yesus Menciptakan Surga Dan Mengapa Yesus Menciptakan Neraka
Lihatlah, Siapakah yang dibenci Yesus
Lihatah, Pada Siapakah Yesus Meneteskan Air Mata-Nya

kesaksian selembar kertas keajaiban lafadz Allah




Selembar kertas bila ditekuk kanan dan kiri bagian atas akan berbentuk
sebuah bangunan menyerupai bangunan gereja dengan dibantu dengan dua
telunjuk kemudian dilipat jadi dua, lalu dilipat lagi menjadi tiga bagian ( trinitas ) menurut umat kristiani. ialah tuhan bapak bagian yang paling panjang, tuhan putra bagian tengah, dan roh kudus bagian yang paling kecil kemudian sobek lah bagian atau gunting bagian-bagian tersebut, maka sobekan potongan kertas menunjukan tuhan bapak dalam penelitian saya, menjadi salib. sedangkan sobekan yang menunjukan tuhan putra dan roh kudus setelah disatukan kepingan-kepingan sobekan tersebut akan menjadi sebuah kata berbahasa inggris HELL ( neraka ) kemudian umat islam semakin sadar dan semakin kuat akidahnya terhadap ajaran islam ( agama Allah ). Sehingga salib dipatahkan yang Insya Allah seluruh umat manusia kembali kepada Agama Allah. Terbukti kata "HELL" yang artinya neraka setelah digeser sobekan demi sobekan berubah menjadi lafadz ALLAH. fantastissss....!!!

Berikan Pendapatmu Pada kolom komentar....

Hidup seorang yang Bodoh

Andrew Palau
Setelah kuliah dan berplesiran ke Europa, saya pindah ke Boston untuk mengejar karir dalam bidang retail. Saya memilih Boston karena jauh dari keluarga. Sudah waktunya untuk saya mencari jalan saya sendiri. Secara eksternal, saya kelihatannya baik-baik saja. Saya punya ijazah dan hidup di kota besar dan mempunyai karir yang bagus. Saya membangun relasi-relasi yang egois untuk memuaskan diri sendiri dan demi keinginan saya. Saya hidup seolah-olah Allah tidak ada.
Saya seorang dewasa yang memilih untuk berjalan meninggalkan Allah. Walaupun kehidupan saya kacau dan tak bermoral, entah bagaimana saya berhasil lolos dari penjara dan tidak terlalu terpuruk...setidaknya secara eksternal.
Apa yang terjadi dalam batin itu merupakan kisah yang berbeda.
Dengan bergulirnya waktu, saya mulai merasa kosong. Saya merasa kesepian sekalipun keluarga besar saya sangat luar biasa dan saya punya banyak sekali teman-teman. Saya adalah satu jiwa yang dikelilingi begitu banyak orang tapi saya terasa begitu putus asa secara batiniah. Ada yang hilang.
Apa yang sedang saya lakukan dengan hidup saya ini?
Pertanyaan ini terus menghantui saya. Sekalipun orang di sekitar saya merasa saya baik-baik saja tapi keberadaan internal saya sangatlah terasa sia-sia dan membuat saya malu. Saya meraba-raba dalam kegelapan untuk mencari jalan keluar. Tapi keputus-asaan bagaikan virus yang menulari seluruh hidup saya.
Saya sedang membangun hidup di atas struktur kaca - bersinar dan memantulkan cahaya indah tapi satu batu kecil saja dapat dengan mudah menghancurkan semuanya. Pilihan-pilihan masa lalu saya mulai memerangkap saya. Hal-hal yang saya anggap menyenangkan itu sekarang menjerat saya dan secara pelahan-lahan membawa pada kehancuran saya. Salah satu adalah alkohol.
Saya minum pada awalnya untuk bersenang-senang, tapi akhirnya saya terjerat. Kekhawatiran dan kecemasan membuat saya minum dan terus minum. Saya tidak dapat tidur tanpa dimabukkan oleh alkohol. Saat saya tidak dalam keadaan mabuk, saya akan berbaring di malam hari dan segala sampah dalam hidup saya akan membanjiri benak saya. Saya tidak akan tenang dan akan terbaring di tempat tidur memikirkan orang-orang yang telah saya sakiti dan kebohongan yang sudah saya lakukan. Semua tipu daya, kebohongan, kesombongan, keangkuhan dan kejahatan yang telah saya lakukan akan muncul silih berganti di dalam pemikiran saya dan membuat saya resah.
Saya seperti seorang tawanan yang disandera oleh pemikiran saya; beban rasa bersalah menindas saya, melemahkan roh dan semangat saya.
Untuk menghindari situasi itu saya akan mencari orang untuk berpesta pora setiap malam, yang merupakan hal yang tidak terlalu sulit. Tapi, kadang-kadang tidak ada orang yang dapat menemani saya, jadi saya akan naik kereta api, kemudian bis. Setelah pulang ke apartmen saya akan duduk sendiri di sofa, meminum bir dan menonton sampai dini hari. Saya akan tertidur di sofa. Merangkak bangun saat alarm berbunyi dan berangkat ke tempat kerja. Di malam hari, saya mulai berpesta lagi. Hidup saya berlanjut dalam keadaan ini. Saya masuk ke dalam lingkaran setan ini untuk lari dari realita yang ada di depan saya.
Saya hidup di dunia orang bodoh. Saya hidup untuk menyenangkan orang yang berpengaruh dan kaya. Seperti seorang badut yang menghibur orang lain. Seperti badut, saya memasang topeng dan menampilkan kehidupan yang menyenangkan, berani dan yang lebih dari yang lain. Saya memakai topeng orang bodoh. Saya menginginkan kasih dan kekuasaan. Media dunia mencerminkan keinginan saya - seks, makanan dan penghiburan. Tapi seperti badut yang berjalan di atas tali di tempat tinggi, saya akhirnya jatuh. Dan saat saya jatuh, saya melihat ke sekitar saya, tidak ada yang memperhatikan. Tidak ada yang peduli, tidak ada yang menonton pertunjukan ini. Saya bukan saja memakai topeng orang bodoh tapi sudah menjadi orang yang benar-benar bodoh.
* * *
"Kamu orang percaya."
"Sedang ngomong apa kamu?"
"Kamu orang percaya, benar?"
Saya tidak tahu apa yang sedang dikatakan pria itu. Saya sedang berada di sebuah klub di Boston di kelilingi oleh suara musik yang keras dan lampu yang berkedip-kedip. Saya tiga ribu mil dari keluarga dan orang yang tahu tentang latar belakang saya. Bagaimana orang ini mengenali saya?
"Kamu orang percaya."
Dengan ragu-ragu saya menjawab, "Iya." Saya langsung mau pergi dari tempat itu. Tapi jauh di dalam lubuk hati saya, saya merasa senang - seolah-olah kami terhubung lewat suatu persaudaraan spiritual. Untuk seketika, saya merasakan suatu penghiburan; yang jelas pria ini seorang Kristen. Entah bagaimana dia mengenal saya.
Katanya lagi, "Iya, memang saya tahu. Kamu pengikut Setan. Benar??"
"Huh, apa? Oh tidak! Tidak!" Saya coba untuk berteriak di tengah-tengah keramaian klub itu.
Pria itu ketawa, berpaling dan meninggalkan saya.
Saya berdiri terpaku di sana. Apa yang terjadi? Sesuatu yang supernatural telah berlangsung, walaupun saya tidak tahu apa, atau kenapa. Apa yang dilihat oleh orang itu yang membuatnya begitu yakin bahwa saya pengikut Setan?
Di malam itu saya menerima peringatan yang mengerikan tentang betapa jauhnya saya sudah menyimpang. Tiba-tiba saya melihat kaitan di antara gaya hidup saya dengan Iblis. Keterikatan saya pada narkoba, alkohol dan lain-lainnya. Beban rasa bersalah sudah lama menghantui saya. Tekanan semakin bertambah dalam batin saya. Saya bukan saja harus berhadapan dengan Allah untuk dosa-dosa saya, tapi sekarang sisi gelap sudah mulai menunjukkan hadiratnya dalam hidup saya. Di malam itu tiba-tiba saya melihat dengan jelas sejauh mana saya sudah jatuh. Apakah mungkin masih ada jalan untuk saya kembali?
Catatan Editor:

Kisah di atas adalah cuplikan dari buku Kehidupan Rahasia seorang Bodoh (A Secret Life of a Fool) oleh Andrew Palau. Andrew Palau adalah anak penginjil dan teolog terkenal Luis Palau. Dia menghabiskan masa remaja dan sebagian kehidupannya memberontak melawan Kekristenan dan Tuhan. Namun, Andrew akhirnya mengalami hal yang membuatnya berubah secara dramatis dan menyerahkan hidupnya pada Allah. Hari ini, dia bersama dua saudaranya berkerja di yayasan ayahnya, Palau Association.

Yesus atau Mama?

 Skenario
Saatnya tiba ketika saya tidak bisa menahan diri lagi untuk menyerahkan seluruh hidup saya kepada-Nya melalui baptisan. Saya menyurati ibu saya untuk mengabarinya tentang keputusan saya. Saat hari-hari berlalu, saya menunggu dengan cemas akan tanggapannya.

Harganya
Untuk bisa menghadapi kemarahan ibu saya, saya tak boleh memiliki sedikitpun keraguan di dalam pilihan saya. Akal dan perasaan saya tahu persis: bahwa saya masih ketakutan! Mengapa? Yah, karena saya merasakan betapa harga untuk mengikut Tuhan benar-benar berat. Besar kemungkinan saya akan kehilangan dunia yang saya kenal selama ini. Lahir di tengah keluarga yang berkecukupan, saya tidak pernah mengalami kekuatiran akan uang. Namun, mengakui Yesus sebagai Tuan dan memberi diri untuk dibaptis bisa membuat keluarga saya marah, khususnya ibu saya, begitu besar kemarahan itu sehingga saya mungkin akan dibuang. Dibuang dari keluarga bukanlah hal yang sepele. Dari mana saya bisa mendapatkan uang untuk membiayai sekolah di luar negeri? Dan sewa kamar saya? Dan ijin tinggal saya? Jika saya tidak memenuhi persyaratan, tentunya saya tidak akan boleh tinggal lagi di Kanada. Di samping itu, saya juga tidak punya cukup uang untuk meninggalkan Kanada. Jika dikumpulkan, saya hanya memiliki tiga atau empat ratus dolar - jumlah yang jelas tidak cukup bahkan sekadar untuk pulang ke negara saya sendiri. Bekerja? Yah, dengan persyaratan imigrasi yang sangat ketat, akan merupakan suatu keajaiban kalan saya bisa mendapat pekerjaan! Sekalipun ada pekerjaan, dengan bayaran per jam, mana mungkin saya bisa mendapatkan uang sebesar $6000.00 untuk biaya sekolah saya? Semuanya itu, adalah ketakutan yang sangat valid dan nyata. Dan mungkin cukup untuk mendorong saya untuk berubah pikiran.
Mengapa bisa terjadi?
Mengapa saya sampai memikirkan tentang baptisan? Sekalipun ketakutan saya terasa sangat nyata, saya tidak bisa menyangkal bahwa Allah (sampai sekarang) sangatlah nyata bagi saya. Pada usia sepuluh tahun, saya mengalami perjumpaan yang pertama kali dengan Kekristenan. Pada saat pesta Natal di mana saya diijinkan oleh ibu saya untuk hadir. Dia mengira bahwa acara itu akan membangkitkan semangat saya yang baru karena ayah saya baru saja meninggal. Satu-satunya hal yang saya ingat saat itu adalah tentang seorang perempuan yang berbicara dengan suara yang keras, dan saya terjatuh ketika dia berdoa sambil menumpangkan tangannya di atas saya. Aneh.
Kesempatan untuk merasakan lebih jauh lagi
Beberapa tahun kemudian, saya masuk ke sebuah sekolah menengah Kristen. Di sana, saya mendapat kesempatan untuk mendengarkan Firman Allah hampir setiap hari. Sering kali, saya terharu sampai menangis ketika mendengar tentang Allah yang menanggung begitu banyak penderitaan demi saya. Sering kali, saya menanggapi panggilan altar. Tentu saja, saya tidak pernah memberitahukan hal itu kepada ibu saya.
Dia memimpin saya
Setelah menyelesaikan sekolah menengah, saya berdoa dengan setulus hati agar Allah memimpin saya ke tempat di mana saya bisa mengenal-Nya lebih baik lagi. Di hari pertama saya belajar di lembaga pendidikan pra-universitas, saya benar-benar dikelilingi oleh orang-orang Kristen: satu di depan, satu di belakang, satu di sebelah kiri dan yang satu lagi di sebelah kanan saya. Mereka termasuk orang-orang yang gigih. Pada awalnya, saya tidak mau ikut persekutuan doa Kristen di sekolah karena itu akan berarti bahwa saya harus meluangkan waktu beberapa jam setelah jam sekolah di hari Jumat. Bagaimana saya akan mempertanggungjawabkan pemakaian waktu tersebut kepada ibu saya? Akan tetapi, saya terpaksa ikut, dengan harapan bahwa setelah itu mereka tidak akan memaksa saya untuk ikut lagi. Saya ingat betul bahwa saat itu saya datang terlambat. Saat saya masuk ke ruang ibadah, saya melihat sekelompok remaja yang sedang berlutut, menyanyikan lagu He Is My Peace (Dialah damai sejahteraku). Ada damai sejahtera surgawi yang melingkupi saya. Sejak saat itu, saya tidak pernah melewatkan satu ibadahpun. Anehnya ibu saya tidak pernah mempersoalkan tentang kegiatan Jumat sore saya itu.
Setelah setengah tahun di tingkat pra-universitas, saya harus mencari tempat kost karena jarak antara rumah dengan sekolah terlalu jauh. Sebelum berpindah, saya berdoa agar Allah memberi saya kesempatan untuk mengenal Firman-Nya lebih jauh lagi. Saat itu saya masih belum pindah masuk, saya sedang membersihkan kamar yang akan saya tempati ketika gadis yang tinggal di depan kamar saya melangkah masuk. Dia memperkenalkan dirinya, dan langsung mengundang saya untuk mengikuti kegiatan PA. Dan saya langsung setuju. Demikianlah, saya habiskan satu setengah tahun di sana. Seiring dengan pengenalan saya akan Firman Allah, saya mengalami satu pergumulan di dalam hati saya. Saya tahu bahwa saya harus menyerahkan hidup saya kepada Dia sepenuhnya, dan mengakui Dia secara terbuka. Tetapi saya juga sering coba untuk mencari dalih dengan berkata pada diri sendiri, "Tentunya Allah akan memahami. Saya ini merupakan kasus khusus." Pergumulan itu bukannya mereda.
Terasa pahit di mulut?
Pada tahun baru Imlek setelah ujian akhir pra-universitas saya, ibu saya menyuruh saya untuk menjamah janggut naga (naga yang dipakai dalam tarian naga) demi keberuntungan saya. Saya menolak saat itu. Dia segera bertanya apakah saya ini sudah menjadi Kristen. Saat itulah saya menyadari betapa susahnya berkata, "Ya". Dalam bulan-bulan berikutnya, saya merasakan akibat yang berkelanjutan. Ibu saya berkata bahwa saya telah menghianatinya, bahwa saya telah mengecewakannya, dan bahwa saya mungkin akan diusir jika saya terus saja percaya kepada Yesus. Pada saat itu, kasus seorang penginjil besar yang jatuh sedang disiarkan di TV. Hal itu dijadikan dasar oleh ibu saya untuk menegaskan penolakannya. Selama delapan bulan itu, saya merasa bahwa kehidupan di neraka mungkin tidak seburuk kehidupan yang saya alami. Sangat tidak tertahankan sehingga saya memutuskan untuk tidak mencari Allah lagi. Akan tetapi, Allah tidak melepaskan saya. Ada kerinduan yang sangat kuat, yang tidak dapat dipungkiri, untuk berbicara kepada Allah, terutama ketika saya dengan sengaja menyingkirkan Dia dari dalam kehidupan saya.
Tak ada yang gratis?
Pada bulan yang kesembilan di tahun itu, saya memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan saya di Toronto, Kanada. Pada malam sebelum keberangkatan saya, saya menelepon pimpinan gereja tempat saya mengikuti PA-nya. Saya ingin meminta alamat dari cabang gereja di Toronto. Ketika dia mendengar bahwa tak ada orang yang menjemput saya di Toronto, dia lalu mengatur agar ada seseorang dari cabang gereja di sana yang akan menjemput saya. Karena tempat saya di asrama universitas masih belum dikonfirmasikan, maka untuk sementara saya tinggal dengan beberapa saudari dari gereja cabang Toronto. Mungkin karena latar belakang kehidupan saya, maka saya agak kesulitan untuk mempercayai orang yang masih asing buat saya. Ibu saya sering berkata bahwa di dunia ini tak ada hal yang gratis. Jadi, saya tidak bisa memahami mengapa orang-orang ini, yang belum begitu mengenal saya, bisa memberikan keakraban yang sedemikian rupa. Mereka tidak sekadar memberi tumpangan dan makanan kepada orang asing, mereka bahkan menyediakan segala yang saya butuhkan, baik jasmani maupun rohani. Dalam beberapa hal, saya merasakan bahwa mereka jauh lebih baik daripada saudara kandung saya. Di antara mereka, saya bisa melihat betapa kasih Tuhan itu nyata adanya. Kasih Tuhan bagi saya, bukan lagi sesuatu yang hanya menjadi hayalan melainkan sesuatu yang nyata dan langsung saya alami.
Kembali ke skenario satu
Dalam masa-masa penantian yang mencemaskan itu, ibu saya menelepon. Seperti yang sudah diduga, dia marah sekali. Dan memang, seorang ibu tahu persis mengenai anak perempuannya. Dia tahu di mana harus menekan tombol. Ajaibnya, saya tidak menangis, suatu hal yang seharusnya terjadi. Ketika dia mengajukan pertanyaan, saya mendapati diri saya bisa menjawab dengan tenang. Dia menantang saya untuk menentang kehendaknya, dan dengan tajam berkata bahwa jika saya berkeras untuk melanjutkan dengan baptisan, dia tidak mau punya anak perempuan seperti saya lagi. Percakapan itu rasanya lama sekali. Ketika akhirnya dia menutup telepon, bendungan di dalam hati saya bobol. Di dalam hati saya, rasanya seperti tali terakhir yang menghubungkan saya dengan keluarga saya telah terputus. Pepatah mengatakan bahwa tak ada kasih di dunia ini seperti kasih ibu. Memang benar bahwa kasih ibu sangatlah besar, namun tetap saja ada batasnya. Kasih Tuhan itu setia dan kekal.
Pergumulan terakhir
Saat mengingat kembali pada baptisan saya, saya tersenyum. Terasa seperti tinggal satu langkah pergumulan lagi yang harus saya selesaikan sebelum saya masuk ke dalam air. Lalu saya berbalik dan melangkah keluar dari air ... ternyata saya lupa melepaskan sepatu saya! Hari ketika saya dibenamkan ke dalam air adalah hari yang dingin di tengah musim gugur, namun ada semacam kehangatan yang memancar dari dalam dan di sekitar tubuh saya...
Akan Datang
Tahun-tahun yang tidak menentu akhirnya berujung pada pemberangkatan menuju pengembaraan baru. Setelah saya dibaptis, Allah terus menuntun saya, memang masih banyak cobaan dan godaan namun saya akan membagikannya di dalam kesempatan yang lain. Sampai dengan hari ini, ibu saya tidak pernah mengusir saya. Dan sebaliknya, kasih saya kepadanya bertumbuh dalam dimensi yang baru - dengan kasih dari Tuhan. Pada awalnya, ada semacam penolakan terhadap kasih 'surgawi' yang baru ini, namun secara perlahan dia mulai menanggapi pendekatan baru dari kasih Allah dan hubungan kami mnejadi lebih dekat dibandingkan dengan yang sebelumnya.
NB. Iman bermula dengan satu langkah yang kecil. Penulis belakangan meninggalkan karirnya sebagai doktor untuk menjadi seorang misonaris. Beliau sekarang dipakai Tuhan secara luar biasa di lapangan untuk membawa banyak orang lebih mengenaliNya.

Dunia akan menjadi lebih baik jika...

"Dilaporkan di BBC suatu kisah benar tentang penulis, Bernard Hare yang mengalami suatu kebaikan yang mengubah hidupnya secara mendalam. Di tahun 1982, ia seorang pelajar miskin yang tinggal di utara London dan suatu sore polisi datang ke tempat tinggalnya. Tapi ia tidak berani untuk membuka pintu karena pikirnya mereka datang untuk mengusirnya karena sudah lama ia tidak membayar uang sewanya.

Tapi setelah itu, ia mulai berpikir bahwa ibunya lagi sakit apakah mungkin polisi datang dalam hubungan dengan hal itu. Berikut adalah kisahnya yang muncul di majalah BBC tanggal 24 Desember 2010.
Tempat tinggal saya tidak punya telpon dan pada waktu itu belum ada hp, jadi saya menyelinap keluar untuk mencari telpon umum. Saya menelpon ke rumah dan ayah memberitahu bahwa ibu lagi di Rumah Sakit dan tidak diharapkan untuk dapat melewati malam itu. "Pulanglah nak," kata ayah.
Saya langsung ke stasiun tapi keretapi yang terakhir ke Leeds sudah berangkat. Ada keretapi lain yang pergi sampai ke Peterborough, tapi saya terlambat 20 menit untuk menyambung perjalanan dengan keretapi yang akan ke Leeds.

Saya seorang pelajar miskin dan tidak punya uang untuk naik taksi dari London sampai ke rumah, tapi saya punya obeng di kantong dan juga kunci maling (skeleton keys). Saya nekat untuk pulang dan merencanakan untuk mencuri mobil di Peterborough, mencari tumpangan mobil, mencuri uang, atau apa pun. Saya tahu dari nada suara ayah bahwa ibu akan meninggal pada malam itu dan saya harus pulang sekalipun harus menggadaikan nyawa.

"Mohon tiketnya." Saya terus menatap ke luar jendala yang gelap itu. Saya meraba-raba mencari tiket dan memberikan kepada kondektur saat ia menghampiri. Ia menandainya, tapi ia terus berdiri di situ memandang pada saya. Saya sempat menangis dan mata saya masih merah, dan penampilan saya pasti mengundang banyak pertanyaan.
"Kamu baik-baik saja?" dia bertanya.
"Tentu saja, saya baik-baik," jawab saya. "Mengapa tidak? Dan apa kaitannya dengan kamu?"

"Kamu terlihat tidak begitu baik," katanya. "Ada yang bisa aku bantu?"
"Pergi dari sini dan jangan ganggu aku," kata saya. "Itu sudah sangat membantu." Saya lagi tidak mau bicara dengan orang.
Perawakannya agak pendek dan ia pasti sudah bisa membaca tanda-tanda bahaya di dalam bahasa tubuh dan nada suara saya, tapi ia duduk berseberangan dengan saya dan terus berusaha berbicara dengan saya.
"Jika ada masalah, saya di sini untuk membantu. Itulah pekerjaan saya."
Di waktu muda saya, tubuh saya gagah besar, sempat terlintas di pikiran saya untuk langsung meninju dia, tapi sepertinya kurang pantas. Dia tidak berbuat salah. Tapi pada waktu itu saya sedang melewati semua tahap-tahap kesedihan sekaligus: penyangkalan, marah, rasa bersalah, penarikan diri dan semuanya. Perasaan saya pada waktu itu berkecamuk dan penuh dengan api kemarahan dan dia menempatkan diri menjadi sasaran empuk kemarahan saya.

Hal lain yang dapat saya pikirkan agar dia tidak menggangu saya adalah untuk memberitahunya kisah saya.
"Lihat, ibu saya sedang sekarat di rumah sakit, dia tidak akan bisa bertahan sampai pagi, saya tidak akan sempat untuk naik keretapi yang ke Leeds dari Peterborough, dan saya tidak tahu bagaimana saya bisa sampai ke rumah."
"Kalau saya tidak sampai malam ini saya tidak akan pernah sempat melihat ibu lagi. Saya lagi kacau ini, saya benar-benar tidak ingin berbicara. Jadi saya akan sangat berterima kasih jika kamu meninggalkan saya sendirian. Oke?"
"Oke," katanya. Pada akhirnya ia bangun. "Saya turut bersedih nak. Semoga kamu sampai ke rumah sebelum terlambat." Lalu ia pergi.
Saya terus memandang ke luar jendela yang gelap gulita itu. Sepuluh menit kemudian, ia kembali ke tempat saya. Oh tidak, ada apa lagi! Kali ini rasanya saya benar-benar mau memukulnya.

Dia menyentuh lengan saya. "Dengar, saat kita tiba di Peterborough, kamu langsung bergegas ke Platfom 1 secepatnya. Keretapi yang ke Leeds akan menunggu di sana."
Terkejut, saya hanya memandangnya. Otak saya tidak dapat mencerna. "Apa?" saya bertanya seperti orang bodoh. "Apa maksudmu? Keretapinya terlambat atau apa?"
"Tidak, keretapinya tidak terlambant," katanya dengan sedikit membela diri, seolah-olah ia benar-benar peduli apakah keretapinya terlambat atau tidak. "Tidak, saya telpon ke Peterborough. Mereka akan menahan keretapi itu untuk kamu. Setelah kamu naik, mereka akan langsung jalan."
"Semua orang akan bersungut-sungut tentang keterlambatan itu, tapi jangan khawatir tentang itu. Anda harus pulang dan itulah yang penting. Selamat dan Tuhan memberkati."
Lalu, kondektur itu melanjutkan ke gerbong yang lain. "Mohon tiketnya. Ada lagi tiketnya?"
Tiba-tiba saya menyadari kebodohan dari sikap saya tadinya. Saya mengejarnya. Saya mau memberinya semua uang yang di dompet saya, SIM saya, kunci saya apa saja, tapi saya tahu itu akan membuatnya tersinggung.
Saya meraih tangannya, "Oh...er, saya hanya mau..." Tiba-tiba saya terbungkam. "Saya, err.."

"Nggak pa pa," katanya. "Tidak masalah." Ia tersenyum hangat dan belas kasihan yang tulus terpancar dari matanya. Dia seorang yang baik dan tidak membutuhkan imbalan apa pun.
"Kiranya saya punya cara untuk mengucapkan terima kasih," kata saya. "Saya sangat menghargai apa yang telah Anda lakukan."
"Tidak masalah," ia berkata lagi. "Jika Anda mau berterima kasih, lain kali saat Anda melihat orang dalam masalah, bantulah mereka. Itu sudah cukup untuk membayar saya."
"Beritahu mereka untuk membalasnya dengan membantu orang yang lain, dan dengan cepat dunia ini akan menjadi tempat yang lebih baik."
Saya berada di sisi ibu saat dia meninggal menjelang subuh. Bahkan sampai sekarang, saya tidak dapat memikirkan ibu tanpa mengingat kondektur yang baik di keretapi malam jurusan Peterborough itu.
Perjumpaan saya dengan kondektur itu mengubah saya dari seorang yang berwatak egois dan penuh amarah menjadi seorang yang manusia yang layak, tapi hal itu tentunya mengambil waktu.
Saya sudah beribu kali membayar kembali sejak waktu itu, "Saya selalu memberitahu orang muda yang saya bantu bahwa saya akan terus melakukannya sampai saya mati. Anda tidak berhutang apa pun pada saya. Sama sekali tidak."
"Jika Anda merasa berhutang pada saya, saya berikan nasehat yang sama yang telah diberikan oleh kondektur yang baik itu, lakukan hal yang sama pada orang lain. Salurkan terus."

Di Lukas 10.37, Yesus memberitahu orang yang mau memperoleh hidup kekal, "Pergilah, dan perbuatlah demikian!" Itulah semangat dari orang Samaria yang baik hati dan itulah yang dilakukan oleh kondektur itu.

Hidup tanpa keterbatasan


Nick Vujicic terlahir tanpa lengan dan tungkai, tapi berhasil menakluk dunia setelah ia dengan imannya di dalam Tuhan terlebih dahulu menakluki dirinya. Kisah inspiratifnya tertuang di dalam buku Life Without Limbs yang menceritakan cacat fisik dan pertempuran emosi yang dialaminya dalam mengatasi keadaannya semasa kecil, remaja dan menjelang dewasa muda. Berikut adalah cuplikan dari Pengantar bukunya.

Namaku Nick Vujicic (dibaca Voy-a-chich). Umurku 27 tahun. Aku terlahir tanpa lengan dan tungakai, tetapi aku tak terbatas dengan keterbatasanku. Aku berkeliling dunia untuk memberikan semangat kepada jutaan orang supaya mereka menaklukkan penderitaan dengan keyakinan, harapan, dan keberanian sehingga mereka dapat mengejar impian-impian mereka. Dalam buku ini, aku akan membagi pengalaman-pengalamanku dalam menghadapi penderitaan dan berbagai rintangan. Memang, beberapa di antaranya adalah kasus unik terkait kondisiku, tetapi kebanyakan merupakan hal yang umum bagi kita semua. Sasaranku adalah agar kau berani mengalahkan tantangan dan kesulitanmu sendiri sehingga dapat menemukan tujuan dan jalanmu untuk meraih kehidupan yang betul-betul luar biasa.

Kita sering merasakan kehidupan tidak adil. Kesulitan dan penderitaan memang dapat memunculkan kebimbangan dan keputusasaan. Aku sendiri sangat memahami hal itu. Tetapi Alkitab mengatakan, “Apa pun cobaan yang kalian hadapi, terimalah dengan sukacita.”  Selama bertahun-tahun, aku berupaya keras belajar mengenal hal itu, dan akhirnya, aku bisa melakukannya. Dari semua pengalamanku, aku dapat membantumu melihat bahwa sebagian besar kesulitan yang kita hadapi menawarkan kesempatan bagi kita untuk menggali siapa sejatinya diri kita dan kontribusi macam apa yang dapat kita berikan kepada sesama kita.

Kedua orangtuaku adalah orang Kristen yang taat, tetapi setelah aku terlahir tanpa lengan serta tungkai, mereka pun jadi mempertanyakan apa maksud Tuhan menciptakan aku seperti itu. Awalnya mereka beranggapan orang seperti aku tidak akan memiliki harapan dan masa depan, bahwa aku tidak akan pernah memiliki kehidupan yang normal dan produktif.

Namun, sekarang kehidupanku jauh melampuai apa yang bisa kami bayangkan. Setiap hari aku menerima telepon, e-mail, SMS, pesan Twitter dari orang-orang yang tak kukenal. Di bandara, hotel, dan restoran, mereka menghampiriku untuk memelukku dan mengatakan bahwa aku telah menyentuh kehidupan mereka melalui berbagai hal. Aku sangat bersyukur. Aku merasakan kebahagiaan yang benar-benar luar biasa.

Aku dan keluargaku sama sekali tidak mengira bahwa keterbatasanku – “deritaku” – juga bisa menjadi berkat, yang memberiku banyak peluang istimewa untuk mengulurkan tangan kepada orang lain, berempati terhadap mereka, memahami penderitaan mereka, dan menawarkan penghiburan bagi mereka. Jelas, aku menghadapi banyak cobaan berat, tetapi aku juga dikaruniai sebuah keluarga yang penuh cinta, yang memiliki pemikiran cemerlang serta iman yang kuat dan tak tergoyahkan. Aku terterus terang bahwa aku baru benar-benar menemukan iman dan rasa memiliki tujuan (sense of purpose) setelah mengalami beberapa pengalaman yang sangat mengerikan.

Begini, ketika aku memasuki masa remaja yang begitu sulit, masa ketika kita semua kebingungan mencari jati diri, aku patang arang karena kondisiku, aku merasa tidak akan pernah bisa “normal”. Tak mungkin bisa dipungkiri bahwa pada kenyataannya tubuhku tidak sama seperti teman-teman sekelasku. Meskipun aku berulang kali mencoba berbagai aktivitas “normal” seperti berenang dan ber-skateboard, aku malah menjadi semakin menyadari bahwa memang akan selalu ada hal-hal yang tidak bisa kulakukan.
Lebih buruk lagi, ada beberapa anak yang dengan kejam mengolok-olokku dengan sebutan “anak aneh” dan “alien”. Tentu saja, aku sepenuhnya manusia dan ingin menjadi bisa seperti orang-orang lainnya, tetapi kelihatannya kecil harapanku untuk mewujudkannya. Aku ingin diterima, tetapi rasanya aku tidak diterima. Aku ingin mendapat tempat dalam pergaulan, tetapi kelihatannya aku tidak mendapatkannya. Aku terbentur sebuah dinding.
Aku sakit hati. Aku mengalami depresi, tenggelam dalam pikiran-pikiran negatif, dan tidak merasa ada gunanya aku hidup. Aku kesepian meski berada di tengah-tengah keluarga dan banyak teman. Aku takut hanya akan terus menjadi beban bagi mereka yang aku cintai.
Namun, aku salah, salah besar. Segala sesuatu yang tidak aku sadari di masa-masa suram tersebut dapat dijadikan sebuah buku: ya buku yang sedang kau pegang ini. Dalam halaman-halaman buku ini, aku akan berbagi denganmu beberapa metode untuk menemukan harapan di tengah gelombang ujian-ujian yang berat dan cobaan-cobaan yang meremukkan hati. Aku akan menerangi jalan bagimu untuk menyeberangi penderitaan sehigga kau akan menjadi lebih kuat, lebih tegar, dan lebih berdaya untuk mengejar kehidupan yang kau inginkan, dan bahkan mungkin mendapatkan kehidupan yang jauh melebihi apa yang bisa kau bayangkan.

Jika kau memiliki keinginan dan hasrat untuk melakukan sesuatu, dan hal itu sejalan dengan kehendak Tuhan, kau pasti akan berhasil Pernyataan yang sangat dahsyat. Jujur saja, aku tidak selalu memercayai pernyataan itu. Kalau kau sudah melihat salah satu kesaksianku yang diunggah ke internet, kebahagiaan diriku yang terpancar dalam video-video tersebut merupakan hasil dari perjalanan yang kutempuh. Pada mulanya, tidak semua yang kubutuhkan ada pada diriku dan aku harus membentuk beberapa atribut penting selama perjalanan itu. Untuk hidup tanpa batas, ternyata aku membutuhkan:

Rasa memiliki tujuan yang kuat
Harapan yang begitu kuat sehingga tidak akan luntur
Iman kepada Tuhan dan peluang yang tak terbatas
Rasa cinta dan penerimaan diri sendiri
Sikap yang berkualitas
Jiwa yang berani
Kemauan untuk berubah
Hati penuh keyakinan
Hasrat untuk mendapat peluang
Kemampuan mengukur resiko dan menertawakan kehidupan
Misi yang mengutamakan pelayanan bagi sesama
Setiap bab dalam buku ini dimaksudkan untuk menjelaskan masing-masing atribut tersebut sehingga kau pun dapat menggunakan dalam perjalananmu mencapai kehidupan yang memuaskan dan berarti. Aku membagi hal itu kepadamu karena aku meneruskan kasih Tuhan kepadamu. Aku ingin kau menggapai segala kebahagiaan dan kepuasan yang disediakan Tuhan bagimu.

Jika kau termasuk di antara sekian banyak orang yang berjuang setiap hari, ingatlah selalu bahwa di luar perjuangan kita sendiri telah menanti sebuah tujuan bagi kehidupan kita. Tujuan itu terbukti amat, sangat, jauh lebih besar daripada yang pernah kita bayangkan.
Kau mungkin akan terbentur banyak kesulitan. Kau mungkin akan jatuh dan merasa tak ada lagi kekuatan dalam dirimu untuk bangkit kembali. Aku tahu bagaimana rasanya, Teman. Kita semua merasakannya. Kehidupan tidak selamanya mudah, tetapi ketika kita menaklukkan cobaan, kita menjadi lebih kuat dan lebih bisa mensyukuri kesempatan-kesempatan kita. Yang terpenting adalah kehidupan-kehidupan yang kau sentuh selama perjalananmu dan caramu menyelesaikan perjalanan itu.
Aku mencintai kehidupanku sebagaimana aku mencintai kehidupanmu. Bersama-sama, peluang kita sungguh luar biasa. Jadi, bagaimana? Tidakkah lebih baik kita coba saja, Kawan?

(Buku Life Without Limits diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Gramedia Pustaka dan tersedia di toko-toko buku Gramedia)

Aku Hanya seorang Manusia yang Lemah

John Sung

Saya pernah mau menyerah di tahun ke sembilan saya melayani Tuhan. Melayani Tuhan bukanlah pekerjaan yang mudah, kita harus banyak menderita sengsara. Saya pernah merasa lemah dan patah semangat. Jika bukan karena kasih Kristus, tidaklah mungkin saya dapat bertekun melayani Tuhan.
Pernah sekali setelah menyelesaikan serangkaian kampanye penginjilan, saya harus menunggu selama 4 jam di stasiun kereta. Mungkin karena sudah terlalu lelah saya mulai berpikir, "Mengapa saya harus terus menginjili? Apa yang saya perolehi dengan meninggalkan rumah dan keluarga dengan bepergian terus? Apa hasilnya? Apa yang saya dapatkan!" Saya patah semangat dan merasa seolah-olah semuanya sia-sia, dan suara hati saya berkata, "Tuhan, saya tidak mau lagi melanjutkan kegiatan penginjilan ini." Begitulah Iblis akan menggoda kita di saat kita lemah. Tetapi Tuhan bersimpati dengan kelemahan saya.

Di dalam kesendirian saya bergumul dengan pikiran yang negatif ini, tiba-tiba saya disapa seorang pria. "Apakah Anda mengenal saya?" Saya memandangnya dan pria itu melanjutkan, "Saya mendapat kabar Anda sedang berada di sini. Jadi saya datang untuk bertemu dengan Anda. Beberapa tahun yang lalu, Anda telah menyelamatkan seluruh keluarga saya. Tapi, saya yakin Anda tidak tahu akan hal itu."
Pria itu lalu menceritakan tentang masa lalunya. Dulu ia seorang pegawai di kantor pos dan ia jatuh cinta dengan seorang gadis yang masih sekolah Ia begitu mencintai gadis itu dan ia sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan istrinya.
'Dan pada waktu itu, Anda datang ke kota saya untuk menginjili. Karena kebetulan saya lewat di tempat itu saya lalu masuk ke ruang pertemuan. Anda sedang berkotbah dari Lukas 16.18 Setiap orang yang menceraikan istrinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berzina; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berzina.
Dan Anda berkata dengan berapi-api, "Pezina akan diutus ke neraka dan dikutuk selama-lamanya jika ia tidak bertobat dan percaya pada Tuhan." Hati saya sangat tidak tenteram setelah mendengarkan Anda. Sepanjang malam saya tidak dapat tidur. Hari kedua dan ketiga saya terus mendatangi tempat Anda berkhotbah. Roh Kudus berkarya dalam hati saya. Tidak ada hal yang dapat saya lakukan melainkan bertobat. Saya maju ke depan pada hari ketiga dan mengakui dosa-dosa saya. Demikianlah Tuhan menyelamatkan saya.
Setelah itu saya meninggalkan kekasih saya dan meminta istri saya memaafkan saya. Tuhan baik, istri saya mau menerima saya kembali. Kami sekarang sudah berdamai dan kasih kami semakin hari semakin kuat. Seluruh keluarga saya mengalami transformasi. Semuanya sekarang mengenal Tuhan dan sukacita memenuhi hati kami. Bukan saja kami tetapi teman-teman dan keluarga besar kami juga sudah diselamatkan. Kami bahkan mengadakan kelas di kantor untuk belajar Alkitab bersama-sama.

Semuanya ini tidak akan kami alami jika Anda tidak datang ke kota kami untuk menginjili. Saya tidak punya apa-apa untuk diberikan kepada Anda kecuali tas kecil ini. Semoga Tuhan membalas apa yang telah Anda lakukan.'  

Saudaraku, betapa Tuhan menguatkan saya pada waktu itu. Melihat kasih karunia Tuhan yang begitu indah, saya langsung bangkit kembali. Walaupun saya begitu tidak layak tetapi Tuhan telah menghibur dan mendorong saya di waktu saya benar-benar terpuruk!
Percayalah saudaraku, salib kita tidak akan lebih berat dari kasih karunia Tuhan. Kesedihan kita tidak dapat menutupi wajah Tuhan, setiap kali kita memandang pada-Nya, kita akan melihat kemuliaan-Nya.

(Dikutip dari khotbah John Sung yang berjudul A New Hope)

Hidup saya jadi berarti


Banyak orang menderita dan hidup di dalam rasa sakit. Tidak kira apakah Anda tinggal di negara yang maju atau berkembang, Anda bertemu dengan permasalahan yang sama.
Ada yang mempunyai masalah dengan pekerjaan mereka. Saya membaca di koran beberapa hari yang lalu, diberitakan bahwa di Sepanyol, lebih dari 20% penduduknya menganggur di 2012, itu berarti satu dari lima orang tidak mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang tetap. Terdapat satu kota kecil di Sepanyol di mana 1,200 dari penduduknya menang lotere bersama-sama dan setiapnya menerima $40,000 untuk merayakan Natal, hal ini memberikan begitu banyak sukacita dan pengharapan bagi mereka, namun bagaimana dengan mereka yang tidak menang?
Ada yang mempunyai pekerjaan yang sangat berat di kantor, berhadapan dengan tekanan dan pengharapan dari bos dan kolega, tekanan yang sebenarnya bisa saja menghancurkan kewarasan seseorang.

Bagi pelajar, mereka berhadapan dengan tugas dan ujian yang tidak ada akhirnya. Tidak ada sukacita dan tujuan dalam studi mereka, karena banyak yang memilih mempelajari jurusan yang "popular" karena memenuhi tuntutan dari orant tua.  Ada yang tidak tahu mau diapakan hidup ini, yang menjadi harapan mereka adalah studi mereka akan membuka jalan untuk memperoleh penghasilan yang bagus di masa akan datang.
Ada orang yang telah disakiti oleh orang tua, saudara, teman-teman, kolega, kekasih dan yang lainnya. Mereka mungkin dihantui oleh rasa benci, tanpa pengampunan dan menyimpan dendam untuk selamanya.

Ada yang telah kehilangan teman-teman terdekat dan juga anggota keluarga. Baru-baru ini ada kecelakaan, seorang anak remaja yang baru 3 bulan mendapatkan SIM, mengalami kecelakaan saat menjemput adiknya dan beberapa temannya pulang setelah menghadiri suatu pameran pendidikan. Adik dan dua sahabatnya meninggal langsung di tempat kejadian itu. Dia menangis dan menangis di acara pemakaman. Diihantui oleh perasaan bersalah dia tidak henti-henti memukul dirinya sendiri untuk melepaskan frustrasinya. Bayangkan rasa bersalah yang akan terus menghantui kehidupannya.
Ada yang memilih untuk lepas dari semua permasalahan dengan memakai narkoba, minuman beralkohol atau berpesta pora.Mereka merasakan tidak ada cinta sejati dan kepedulian di dunia ini, semua orang memakai topeng dan berpura-pura gembira. Jadi sebaiknya jalani hidup ini dengan berpesta pora dan mencari kesenangan dan kegembiraan di dunia ini karena hidup ini singkat.

Apakah hal-hal yang Anda dapat sesungguhnya Anda andalkan dari dunia ini untuk memberi Anda pengharapan? Karir? Keluarga? Istri atau suami? Anak-anak? Menang lotere?

Allah telah berjanji, Dia memberi kita pengharapan, dia mengutus Yesus Kristus  anaknya. Suatu pengharapan dari Allah telah dberikan kepada kita.
Saya akan membagikan bagaimana saya memahami arti penting kehidupan...
Saudara perempuan saya yang paling sulung merupakan orang Kristen yang pertama di dalam keluarga saya. Dia menerima begitu banyak tentangan dan tantangan dari keluarga termasuk saya saat dia terus ke gereja sebelum dia dibaptis. Tapi dia yakin bahwa suatu hari, keluarganya akan diselamatkan. Dia melihat apa yang telah disiapkan Allah baginya, yang sepertinya tidak mungkin pada waktu itu.
Setelah saya selesai SMP, saya ke SMA yang dekat dengan gereja ini. Akhirnya saya tinggal bersama beberapa saudara Kristen di sebuah rumah. Saya bertemu dengan banyak orang dari gereja dan akhirnya saya sendiri ikut ke gereja. Saya mendengarkan ajaran Tuhan dan juga janji-janjinya. Saya belajar apa itu kasih dan apa itu kasih karunia, apa yang menjadi tujuan hidup kita menurut Kitab Suci. Saya akhirnya mengenal siapa Allah Yahweh itu.

Allah berkerja dalam cara yang luar biasa untuk membawa orang untuk mengenalNya. Saya menemukan bahwa Allah tidak seperti yang saya bayangkan dulunya. Dia sangat berbeda dengan imaginasi saya. Cara Allah sangat-sangat luar biasa dan sama sekali berbeda dari dunia.

Saat seluruh dunia memberitahu Anda untuk menjadi tangguh dan kuat, Allah berkata Anda tidak boleh bergantung pada kekuatan Anda tapi pada Dia.
Saat semua orang memberitahu Anda bahwa yang lebih kuat akan berkuasa dan yang lemah harus mengalah, dan inilah lumrahnya dunia, tapi Allah memberitahu saya bahwa Dia akan memakai yang lemah dan yang  rendah hati.

Saat seluruh dunia berkata bahwa Anda harus belajar untuk mengasihi diri Anda sebelum Anda dapat mengasihi orang lain, Allah berkata bahwa Anda harus mengasihi orang lain seperti diri Anda sendiri. Mereka yang mau menyelamatkan dirinya akan kehilangan, tapi mereka yang mengorbankan nyawanya akan memperoleh hidup.
Saya pernah bertemu dengan seorang pencandu narkoba dari pusat rehabilitasi dan orang ini adalah seorang pembunuh bayaran dari Filipina. Allah telah melakukan pekerjaan yang luar biasa di dalam hidupnya. Saya dapat melihat matanya yang penuh pengharapan dan Anda tahu bahwa Allah telah berkerja di dalam hidupnya. Allah telah memberinya, dan juga kita semua suatu pengharapan yang unggul dengan mengutus  Yesus ke dalam dunia ini, suatu kesempatan untuk menjadi seorang manusia baru. Sesungguhnya, Allah berkerja dalam cara yang ajaib. Janganlah merasa aneh saat mendengarkan bahwa Allah telah mengutus Yesus untuk mati bagi dosa Anda, janganlah merasa aneh.  Karena inilah suatu fakta kebenaran yang dapat Anda alami sendiri.

Lewat gereja, saya mengenal Allah. Saat saya memandang kembali dan melihat perubahan yang telah Allah kerjakan dalam hidup saya dan kakak-kakak saya, saya sesungguhnya mau mengucap syukur pada karya Allah yang ajaib. Saya dulunya orangnya kasar dan tidak menyenangkan, tapi setelah mengenal Allah, Dia mengubah saya. Dia mengajarkan pada saya tujuan hidup; Dia mengajarkan pada saya apa itu kasih sejati dan kasih karunia, dan juga karakternya. Sekalipun saya masih mempunyai banyak kelemahan, tapi Allah bekerja di dalam diri saya dari waktu ke waktu.

Sejak tahun 2007, saya mulai menghargai apa itu arti penting kehidupan karena hal itu terjadi di dalam hati saya. Jika apa yang saya bagikan ini terdengar aneh bagi Anda, saya mau mengundang Anda untuk datang dan mencari tahu, temuilah apa itu arti penting kehidupan. Allah telah mengutus Yesus lebih dari 2000 tahun yang lalu untuk memberi kita suatu pengharapan yang kekal, untuk mengubah kita menjadi manusia baru! Janganlah menyia-yiakan kesempatan ini!

(Saudara Wei adalah seorang mahasiswa yang mengalami kasih karunia dari Allah yang nyata dalam hidupnya,  dan sekarang menjadikan tujuan hidupnya untuk membawa lebih banyak orang untuk mengenal Yesus Kristus.)

Sinar Terang di Afrika

(David Livingstone 1813-1873)
Redaktur

Menjelang subuh, David Livingstone merasakan tubuhnya sudah tidak berdaya lagi. Dengan bersusah payah ia bangkit dari tempat tidur dan berlutut di samping ranjangnya untuk berdoa kepada Tuhan yang telah dengan setia menemaninya selama 33 tahun di Afrika. Ketika pembantunya Susi dan Chumah masuk ke gubuknya di pagi hari, mereka menemukan Livingstone dalam posisi berdoa dan sudah dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Dunia telah kehilangan seorang misionaris, penjelajah dan pria yang mulia.
Walaupun Livingstone lebih senang menyebut dirinya seorang misionaris tetapi banyak yang menilai bahwa sumbangannya yang terbesar adalah usahanya untuk menghapus perbudakan dari benua Afrika. Salah satu ucapannya yang terakhir adalah, "Saya akan melupakan semua kelaparan, penderitaan dan pencobaan yang telah saya alami, jika saya berhasil menghentikan perdagangan budak di benua ini."
Kedatangan Livingstone ke benua Afrika pada tahun 1841 adalah untuk mengabarkan Injil, tetapi kekejaman sadis yang dilakukan oleh kaum Boer dalam menjalankan perdagangan budak membuat Livingstone berikrar, "Setelah melihat kesengsaraan yang diakibatkan oleh perbudakan, saya harus melakukan segalanya yang mungkin untuk menumpas dan mengurangi tingkat kejahatan ini!"
Penentangan para misionaris terhadap perdagangan budak menjadikan mereka musuh utama para pedagang budak. Seringkali para misionaris bukan saja diancam oleh kaum Boer tetapi juga oleh suku-suku Afrika yang menganggap mereka konco-konco para pedagang budak. Tetapi pertemuan dengan Livingstone seringkali mengubah pandangan suku pribumi terhadap para misionaris.
Livingstone yang juga adalah seorang dokter medis seringkali menempuh perjalanan yang berbahaya untuk merawat orang yang membutuhkan. Pernah sekali, di tengah malam seorang utusan datang membawa kabar bahwa seseorang telah diserang badak di tengah hutan dan dalam keadaan kritis. Teman-teman Livingstone menasehatinya untuk tidak berangkat ke hutan di tengah malam karena kondisi medan yang berbahaya dan ancaman serangan hewan-hewan liar. Tetapi bagi Livingstone hal ini memang telah menjadi tugasnya untuk sedapat mungkin menolong orang yang membutuhkan bantuannya. Ia berangkat dengan berjalan kaki melintasi hutan sejauh 10 km. Setibanya di tempat ternyata korban serangan badak itu sudah meninggal dunia. Apakah usahanya sia-sia? Sama sekali tidak karena melalui tindakannya, orang-orang pribumi itu bisa melihat kasih dan pengorbanannya untuk menolong mereka dan ini membedakan dia dari para pedagang budak.

Penemuan Livingstone dan keberhasilannya sebagai seorang penjelajah dan ilmiawan dapat dibaca di banyak buku sejarah tentang benua Afrika. Tetapi warisan peninggalan Livingstone yang terbesar adalah teladan hidupnya. Berkali-kali Livingstone ditipu, dikhianati dan difitnah oleh orang lain demi kepentingan mereka sendiri. Tetapi hal-hal ini tidak membuat Livingstone patah semangat dan meninggalkan pekerjaan yang sudah dimulainya. Kesetiaan dan fokusnya kepada Tuhan dalam melaksanakan tugas yang sudah dipercayakan kepadanya menjadi ciri dari karakternya.
Setelah menemukan tuannya dalam keadaan tidak bernyawa, Susi dan Chumah memulai persiapan untuk membawa jenazahnya kembali ke Inggris. Hal ini bukanlah suatu hal yang sederhana karena mereka harus melintasi hutan ribuan kilometer jauhnya dengan berjalan kaki dan naik perahu. 

Jantung dan organ-organ tubuh lainnya dikeluarkan dan dimakamkan di bawah sebuah pohon yang besar. Jenazahnya kemudian dibalsem dan dikeringkan di bawah matahari. Selama 14 hari dalam proses pengeringan, mereka bergilir menjaga jenazah itu 24 jam sehari untuk memastikan tidak ada hewan yang mendekat. Perjalanan memulangkan jenazah Livingstone dari hutan di Afrika ke Inggris memakan waktu 9 bulan lamanya. Hal ini sendiri merupakan suatu mukjizat, suatu keajaiban yang terjadi hanya karena kasih. Ini membuat kita bertanya-tanya, kira-kira seperti apakah kesaksian hidup Livingstone itu sehingga membuat pembantu-pembantu tersebut begitu mengabdi kepadanya dan mengasihi dia? Lewat tindakan mereka, Chumah dan Susi memperlihatkan kasih dan hormat mereka kepada Livingstone. 

Setelah kematian Livingstone, Susi akhirnya memberi diri untuk dibaptis dan mengambil nama baru, David, untuk memperingati orang yang pertama kali mengajarkan makna menjadi seorang Kristen kepadanya.
Bertahun-tahun setelah kematiannya, upaya Livingstone mulai membuahkan hasil. Afrika tidak lagi menjadi benua yang tertutup, perdagangan budak dikutuk dan lebih dari 500 misionaris mulai bekerja di Afrika. Banyak yang mengaku tertarik dan memberi diri untuk melayani di Afrika karena terinspirasi oleh tulisan dan teladan hidup Livingstone.

"Tuhan, terima kasih untuk kanker ini"

 Derrick D'Souza


"Tuhan, terima kasih untuk kanker ini, karena setelah divonis, saya segera bisa membedakan di antara hal yang sepele dengan hal yang lebih penting. Maut sudah berada di depan mata. Saya tidak tahu apakah saya mempunyai tiga bulan, enam bulan, sepuluh tahun. Saya tidak akan pernah mengalami kejelasan ini tanpa mendapat penyakit kanker ini." Paul Henderson menulis ini di journalnya setelah divonis menderita kanker darah pada 

November 2009.
 

Menjadi agen perubahan
Paul Henderson adalah pemain hoki legendaris dari Kanada. Beliau menulis buku "The Goal of the Century" (Gol Abad ini). Banyak yang berpikir bahwa bukunya tentang gol yang dicetaknya saat bermain melawan Rusia di tahun 1972 yang membuatnya terkenal. Tapi menurut Henderson, "Buku ini adalah tentang gol yang lebih penting, tentang misi saya yakni menjadi agen perubahan dari Tuhan."
Gol yang berakar di dalam Kitab Suci: "Menjadi layak untuk dipakai oleh Tuhan." 2 Timotius 2:21 adalah salah satu ayat yang memandu hidup Henderson, "Jika seseorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi alat untuk maksud yang mulia, dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya, dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia."
Tuhan mulai menyiapkan Henderson untuk dipakainya saat dia berumur 32 tahun. Di usianya yang 29 tahun, Henderson telah menjadi pemain hoki yang paling popular di negaranya. Dia tidak dapat bepergian tanpa dikerumuni oleh orang banyak. Setelah mencapai impian untuk menjadi pemain hoki professional, seharusnya dia sangat bersyukur dan merasa diberkati, tapi dia malah mengalami kegelisahan dan ketidak-puasan yang tidak dapat dia abaikan.

 
Saya merasa marah, pahit dan frustrasi, dan terdapat banyak hal tentang hidup yang saya tidak tahu bagaimana menanganinya. Saya mempunyai banyak masalah dengan teman-teman di team saya. Saya sedang bermain dengan team yang terbaik yang merupakan impian dan cita-cita saya, tapi entah mengapa saya telah menjadi orang yang dipenuhi kepahitan dan kemarahan.
Jadi saya mulai minum untuk meredakan rasa sakit ini. Saat Anda frustrasi dan marah, Anda akan berusaha untuk mencari jalan keluar. Anda keluar bersama teman-teman dan mengajak mereka untuk berpesta dan bergembira. Keesokan harinya Anda bangun namun perasaan kosong itu tetap ada.
Seorang teman mendorong saya untuk meneliti klaim yang dibuat oleh Yesus. Teman saya ini memberitahu saya bahwa saya tidak pernah mempedulikan jiwa saya dan tidak pernah melihat ada apa di dalam saya. Perkataannya masuk akal bagi saya, lalu saya mulai membaca Alkitab dan melihat apa yang diklaim oleh Yesus. Setelah pencarian selama dua tahun, saya diyakinkan bahwa Yesus mengasihi saya dan ingin saya lebih mengenal dia.

Suatu keputusan yang menentukan
Namun, merupakan suatu pergumulan yang nyata untuk menjadi seorang Kristen. Alasannya banyak. Pertama, saya selalu bermegah bahwa saya adalah orang yang mandiri dan tidak mengandalkan orang lain untuk kesuksesan saya. Saya terbiasa mengendali hidup saya sendiri. Saya juga khawatir dengan pendapat orang lain. Ketiga, saya memandang Kekristenan sebagai serangkaian peraturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, sesuatu yang sangat sempit. Bagaimana saya bisa tetap bergaul dengan teman-teman lain namun tetap menjadi seorang Kristen? Saya khawatir saya harus mengorbankan terlalu banyak hal.

Akhirnya, saya membaca di Alkitab bahwa jika sesungguhnya saya mengasihi Tuhan saya tidak perlu takut untuk memberitahukan pada orang lain tentang Dia. Tapi bagi saya, kalau saya menjadi seorang Kristen, saya tidak mau memberitahu orang lain tentang hal itu. Ini membuat saya frustrasi, karena saya tidak dapat melangkah lebih jauh.
Suatu hari, saya tidak kuat untuk melawannya lagi. Saya membuang semua ketakutan dan dengan jujur berkata pada Tuhan: "Saya takut, dan saya tidak mau mengakui hal ini pada siapapun." Dan saya menyerahkan hidup saya pada Tuhan.
Sejak hari itu, saya tidak lagi menjadi orang yang sama. Tuhan berdampak secara positif di dalam setiap aspek kehidupan saya. Yang paling penting, Dia telah melenyapkan semua kemarahan dan kepahitan saya. Tentunya, hidup saya tidak bebas dari masalah. Salah satu tantangan terberat adalah saat istri saya di rumah sakit dan berada di ambang maut. Saya marah pada Tuhan, tapi malam itu saya menyadari bahwa kehidupan adalah anugerah dari Allah, dan saya memutuskan pada waktu itu juga untuk menempatkan segala sesuatu di tanganNya. Dan Allah telah membuktikan kesetiaanNya selama bertahun-tahun saya berjalan bersamanya.

Maut tidak dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan
Saya berusaha setiap hari untuk menjalin hubungan yang intim dengan Allah. Menghabiskan waktu bersamanya di pagi hari dan memastikan saya memiliki persekutuan yang akrab denganNya. Saya meminta Allah untuk memenuhi saya dengan RohNya dan saya melangkah dengan suatu keyakinan yang luar biasa bahwa saya adalah milik Tuhan.
Saya telah menghafal mungkin ribuan ayat-ayat dari Kitab Suci. Jika setiap hari Anda mengizinkan Firman kebenaran itu menerangi Anda, Anda akan dapat melihat dengan perspektif dan cara pandang yang luar biasa jelas."

Akal budinya yang telah diperbarui lewat interaksinya dengan Firman selama 37 tahun membuat Henderson bisa berkata saat dia berhadapan dengan maut, "Saya tidak pernah bertanya, 'mengapa saya?' Saya tidak akan mengubah tempat saya dengan siapa pun di dunia ini. Saya meletakkan iman saya pada Allah. Saya tidak takut mati. Saya masih memiliki saat ini, dan jika saya masih ada besok itu bagus juga."
"Saya sedang berada di dalam tahapan hidup di mana saya banyak ketawa. Saya menertawakan diri saya sendiri, sikap perfeksionis saya, ketidak-sabaran saya dan ada kalanya cara saya yang tidak diplomatis saat membicarakan hal-hal yang dekat dengan hati saya." 

"Sekarang, ketenangan batin, kepuasan dan kedamaian yang saya alami setiap hari menyakinkan saya bahwa janjiNya untuk mengasihi dan mempedulikan saya itu nyata dan benar. Menderita sakit kanker darah ini tidak mengubah semuanya itu. Karena di atas semuanya itu, saya merindukan untuk menghabiskan kekekalan bersamaNya."
"Kematian Yesus telah memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidup berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut - Ibrani 2:14-15"

Itulah kebenaran yang sangat memerdekakan yang dapat dialami oleh setiap orang yang hidupnya dijalani bersama Tuhan.

86 Tahun Aku Mengikut-Nya


Polykarpus sedang berdoa di dalam kamarnya di loteng ketika pasukan bersenjata lengkap datang mengepung rumah kecil di perkebunan terpencil itu. Rupa-rupanya salah satu pelayan yang pernah melayaninya telah membocorkan tempat persembunyiannya setelah disiksa dengan kejam oleh tentara Romawi.

Polykarpus yang berusia 86 tahun pada waktu itu dengan tenang turun ke ruang bawah dan para prajurit yang ditugaskan untuk menangkapnya langsung kaget karena mereka tidak tahu bahwa Polykarpus yang sedang diburu dengan gencar oleh pihak Romawi itu adalah seorang yang sudah begitu lanjut usianya. Dalam hati mereka bertanya-tanya ada apa dengan orang tua ini yang membuatnya begitu dibenci oleh pemerintah Romawi.
Polykarpus lalu meminta pelayan-pelayannya untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk menjamu tamu yang tidak diundangnya itu. Ia juga meminta diberikan waktu 1 jam untuk berdoa tanpa diganggu.

Polykarpus tidak mendoakan dirinya tetapi menaikkan doa syafaat bagi orang lain. Namun karena terlalu banyak orang yang didoakan oleh Polykarpus, ia baru menyelesaikan doanya setelah dua jam. Akhirnya ia dibawa ke kota dan disambut oleh kepala keamanan kota yang bernama Herod dan ayahnya, Nicetes.
Herod dan Nicetes membawa Polykarpus ke dalam kereta kuda mereka dan dengan lembut coba membujuk Polykarpus.  "Apa salahnya untuk mengatakan bahwa Kaisar adalah Penguasamu, dan menyembahnya?" Segala macam cara mereka pakai untuk membujuknya, tetapi Polykarpus berkata, "Aku tidak akan melakukan apa yang engkau minta." 

Karena tidak berhasil, Polykarpus akhirnya didorong dengan kasar dari kereta kuda dan diseret ke stadion tempat para pemimpin Romawi sedang menantinya. Setelah memastikan identitas Polykarpus, Pemimpin Romawi itu dengan lembut coba membujuknya untuk menyangkal Kristus, "Pikirkanlah tentang usia engkau, akuilah kebesaran Kaisar dan bertobatlah. Kutuklah Kristus, dan kami akan membebaskan engkau; Katakanlah engkau tidak ada hubungan apa-apa dengan Dia."
Polykarpus lalu menjawab, "Aku telah mengikuti Dia selama 86 tahun, dan Dia tidak pernah berbuat salah terhadap aku. Bagaimana mungkin aku menista Raja yang telah menyelamatkan aku?"

Walaupun jengkel dan marah tetapi mungkin karena usia tuanya, mereka terus membujuknya, "Bersumpahlah oleh kebesaran Kaisar." Polykarpus hanya berkata, "Tidakkah engkau tahu bahwa aku adalah seorang Kristen, jika engkau mau mendengarkan kebenaran Kekristenan, berilah aku waktu dan tempat untuk menjelaskan."
Jawaban Polykarpus semakin membuat semua yang mendengarkan menjadi berang. "Hewan-hewan buas yang kelaparan sudah disiapakan, jika engkau tidak mau 'bertobat' dari ketidakpercayaan engkau kepada Kaisar engkau akan dilemparkan untuk dimakan hewan-hewan buas itu!
Polykarpus menjawab, "Silakan, karena kami tidak terbiasa bertobat dari apa yang baik demi sesuatu yang jahat."

Lalu diumumkan sebanyak tiga kali kepada orang banyak yang sudah berkumpul di stadion, "Polykarpus telah mengaku bahwa ia adalah seorang Kristen." Seluruh stadion mulai berteriak-teriak meminta pemimpin Romawi melepaskan singa lapar ke tengah stadion untuk memangsa Polykarpus. Tetapi karena pada waktu itu tidak memungkinkan untuk acara gladiator dan singa, diputuskan bahwa Polykarpus akan dibakar.
"Apakah engkau sungguh tidak mau bertobat? Engkau akan kami jatuhkan hukuman mati dengan dibakar sampai hangus."

Kata Polykarpus, " Engkau mengancam aku dengan api yang hanya akan membakar paling lama satu jam, setelah itu apinya padam. Tapi engkau sendiri bodoh dengan tidak menyadari tentang api penghakiman yang kekal, yang telah dipersiapkan untuk orang-orang yang tidak percaya. Apa lagi yang engkau tunggu? Lakukanah apa yang engkau mau lakukan!"

Mendengarkan itu, orang banyak yang bagaikan dirasuk setan mulai mengumpulkan kayu dan bahan-bahan kayu dari toko-toko dan tempat permandian umum. Dengan cepat tumpukan kayu sudah terkumpul. Polykarpus lalu menanggalkan jubahnya dan melonggarkan pakaiannya, dan ia coba juga untuk menanggalkan sepatunya.
Di saat ada yang mau memakukan kaki dan tangannya ke atas kayu supaya ia tidak akan coba melarikan diri waktu api mulai memanas, Polykarpus berkata, "Biarkan saja; jika Tuhan memberi aku kekuatan untuk dibakar di dalam api ini, Ia akan memampukan aku untuk tetap bertahan di atas gumpalan api ini." Lalu mereka tidak jadi memakunya tetapi sekadar mengikat tangannya di belakang seperti seekor domba yang akan dibawa ke tempat sembelihan.
Lalu Polykarpus menaikkan doanya yang terakhir, "Aku bersyukur Engkau telah mengaruniakan kepada aku hari ini dan saat ini, di mana aku dapat mengambil bagian di antara para martir untuk dibangkitkan kepada hidup yang kekal oleh Roh Kudus, dalam jiwa dan tubuh yang tidak akan dikorupsi lagi. Semoga aku akan diterima di dalam hadirat Engkau hari ini, sebagai persembahan yang berkenan yang telah Engkau persiapkan. Engkaulah Tuhan yang setia dan benar."

Demikianlah pada jam 2 siang, tanggal 23 Februari di tahun 155, Polykarpus, yang ditahbis menjadi uskup gereja di Smyrna oleh rasul Yohanes sendiri, mati sebagai martir bagi Kristus.
Catatan tentang kemartiran Polykarpus, yang merupakan suatu fakta sejarah ditemukan di antara surat-surat Ireneus yang merupakan murid Polykarpus.
Polykarpus seperti juga banyak orang percaya di zaman ini, mampu untuk mati bagi Kristus karena ia hidup untuk Kristus. Hidupnya secara radikal ditransformasi oleh pekerjaan Roh Kudus - keinginan, kekhawatiran, rasa sakit dan rasa takut tidak lagi mengikatnya. Kehidupan dan kematian Polykarpus merupakan inspirasi bagi semua orang percaya. Ia menyerahkan hidup duniawinya bagi Kristus dan di dalam pengorbanannya, ia memperoleh hidup yang kekal.
-as

KESAKSIAN MANTAN KETUA TIM PEMBURU HANTU

Pada suatu hari di bulan Februari 2007 yang lalu seorang teman mengikuti sebuah persekutuan doa di Surabaya. Dalam acara itu ternyata ada pembicara tamu yang memberikan kesaksian. Dia adalah bapak Mahrus, seorang mantan Ketua DPD (Dewan Pimpinan Daerah) suatu front yang sangat terkenal di negeri ini, juga mantan Ketua Tim Pemburu Hantu di sebuah stasiun TV Swasta.
Pada suatu hari di akhir tahun 2005 bapak Mahrus diminta seorang pejabat di Jatim untuk mendapatkan bunga kencono wungu (?) yang dipercaya dapat mendatangkan kesaktian luar biasa sehingga bisa hidup selama-lamanya. Ketika ia melakukan tapa (semedi/meditasi) , ia kaget sekali karena melihat sebuah lengan terulur dari samping tubuhnya dan di tangan itu terdapat sebuah roti. Terdengar suara, “Inilah yang engkau cari…” Tiga kali hal itu terjadi, namun bapak Mahrus tak menanggapi, karena bukan itu yang ia cari. Ia sangat heran, tangan siapakah yang terulur tadi? Apa maksud roti di tangan itu?
Pada malam harinya bapak Mahrus didatangi sesosok tubuh yang pernah ia lihat fotonya di dalam buku atau majalah kekristenan. Ya, malam itu ia didatangi Isa Al-Masih. Tangan-Nya terulur, berisi roti, dan Ia mengatakan, “Inilah yang engkau cari…” Bapak Mahrus ragu-ragu, namun Tuhan Yesus memaksa memasukkan roti itu ke dalam mulutnya. Sejak saat itu ia mendapatkan damai sejahtera yang melampaui segala akal. Sosok Isa itu telah pergi, namun apa yang dirasakan bapak Mahrus tak dapat pergi. Sejak saat itu dia ingin tahu, roti apa yang ia telah telan.
Ia segera mendatangi sebuah gereja besar di Surabaya, namun karena mereka tahu dari penampilan wajah bapak Mahrus yang keturunan Arab ini dan mereka tahu bahwa beliau ini adalah Ketua DPD suatu ormas terkenal, maka tak ada hamba Tuhan di situ yang berani melayani bapak Mahrus. Namun seorang pengerja di situ memberi nama seorang hamba Tuhan yang tidak terkait dengan gereja apapun. Kepada hamba Tuhan ini bapak Mahrus bersoal jawab tentang kekristenan dan akhirnya ia minta dilayani pelayanan pelepasan. Sebelumnya bapak Mahrus adalah seorang yang memiliki “ilmu” bermacam-macam, memiliki banyak jin penolong dan memiliki ilmu kekebalan tubuh. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, semua ilmu itu dilepaskan, hubungan dengan kuasa-kuasa lain dilepaskan. Ia menerima kelahiran kembali dalam roh dan hatinya. Ia menjadi ciptaan baru di dalam Kristus, kehidupan yang lama telah berlalu, sesungguhnya kehidupan yang baru sudah datang.
Setelah mendapatkan penjelasan dari hamba Tuhan ini ia sekarang mengerti apa yang sebenarnya ia cari. Dari penjelasan itu ia tahu apa yang telah ia makan. “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya,” (Yohanes 6 : 51). Bapak Mahrus telah memakan roti hidup itu.
Ketika kisah tentang hal ini diceritakan kepada isterinya, sang isteri hanya berkata, “Umi sih terserah Abi saja!” Jadilah, satu keluarga ini percaya dan menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Nah, mulailah persoalan berdatangan. Seperti kita ketahui, seseorang yang murtad dari agama sebelumnya, maka darah orang itu halal untuk dicurahkan. Pada suatu hari rumah bapak Mahrus di Surabaya dikepung puluhan anggota dari ormas ini. Hukuman mati telah dijatuhkan oleh pimpinannya. Bagaimana keluarga Bapak Mahrus dapat luput dari kepungan pasukan yang dilengkapi berbagai senjata tajam ini? Pada saat itu semua ilmu kekebalan tubuh bapak Mahrus telah dilepaskan dan ia sepenuhnya bersandar pada perlindungan Bapa Sorgawi. Secara luar biasa dan penuh mukjizat bapak Mahrus dan keluarganya diloloskan oleh pertolongan Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta Langit dan Bumi. Ia tidak mengerti betapa tak terduga dalamnya hikmat Bapa Sorgawi itu. Hikmat-Nya melebihi hikmat manusia. Puluhan orang itu tidak dapat menangkap atau mencederai bapak Mahrus, tanpa seizin Pencipta Langit dan Bumi.
Kehidupan beliau saat ini sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan, bukan mengandalkan dirinya lagi. Ia hidup oleh anugerah Tuhan semata-mata. Oleh karena kasih karunia Tuhan bapak Mahrus telah diselamatkan oleh iman. Ia telah mendapatkan apa yang ia cari. Itulah roti kehidupan. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.

Pengakuan Seorang Ateis (Perjalanan Iman C.S Lewis)

Selama bertahun-tahun, C.S Lewis penulis karya Narnia, merupakan seorang ateis yang sangat sulit untuk diyakinkan tentang keberadaan Tuhan. Dibutuhkan pergumulan intelektual yang panjang sebelum Lewis akhirnya menerima keberadaan Tuhan.  Lewis seringkali membombardir teman-temannya di Oxford, tempatnya belajar dan tempat dimana akhirnya ia mengajar, dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan yang baginya memang tidak ada jawabannya.

"Mengapa Tuhan Anda menciptakan alam semesta yang begitu kejam?"
"Mengapa Tuhan Anda mengizinkan seorang bayi meninggal?"
"Mengapa Tuhan Anda mengizinkan hewan yang tidak berdaya menderita sakit?"
"Mengapa Tuhan Anda menciptakan alam semesta yang begitu besar tapi hanya satu planet yang dapat didiami?"
"Mengapa alam semesta ciptaan Tuhan Anda ini berjalan sesuai dengan perkiraan para ilmuwan?"
"Jika Tuhan Anda itu baik dan maha kuasa, mengapa begitu banyak dari makhluk ciptaan-Nya yang tidak gembira? Bukankah Ia maha pengasih?"
"Mengapa manusia selalu terlibat dalam perang dan saling membunuh?"
Salah satu teman diskusinya adalah J.R.R Tolkien, penulis trilogi "Lord of the Ring" yang sangat dihormati Lewis sebagai lawannya dalam berdebat. Salah satu hal yang membuat Lewis mempertimbangkan keberadaan Tuhan yaitu dikarenakan hampir semua teman-temannya yang brillian di Oxford merupakan orang yang percaya pada Tuhan, termasuk Tolkien. Di benaknya, ia sering dibayangi pertanyaan, "Mengapa?"

Lewis adalah sosok yang sangat gemar membaca. Semua karya tulisan dari penulis barat yang terkenal dipelajari dan diteliti olehnya. Chesterton, Samuel Johnson, Spenser, Milton, Dante, John Donne, George Herbert dan Bunyan. Ia menemukan bahwa tulisan mereka sangat mendalam, kaya dan begitu nyata dalam menggambarkan kehidupan sehari-hari. Dan penulis-penulis ini semuanya merupakan orang Kristen. Bagaimana dengan penulis-penulis humanis yang terbesar, yang kebanyakannya adalah ateis? George Bernard Shaw, H.G Wells, John Stuart Mill dan Voltaire - mengapa karya mereka terkesan begitu dangkal, tidak kaya ataupun berisi makna bagi kehidupan sehari-hari?
Pada waktu itu Lewis hanya percaya pada rasionalisme dan materialisme. Tetapi di dalam pencariannya yang panjang, ia akhirnya harus mengakui bahwa materi dan rasio tidak dapat menjelaskan pengalaman manusia. Setelah begitu banyak membaca, ia semakin menyakini akan eksisnya satu pengaruh supranatural. Tetapi masih sulit baginya untuk menerima bahwa rasio yang berada di balik alam semesta ini atau pengaruh supranatural itu adalah Tuhan.

Malam demi malam ia bergumul sendirian di kamarnya di Magdalen Kolej, ia terus menolak untuk menerima identitas dan realitas Sang Mutlak. Di musim semi 1929, saat ia sedang berada di dalam sebuah bus di Oxford, tanpa kata-kata dan sesuatu apapun, tiba-tiba ia merasa terbebani dan dingin, seperti manusia es yang tidak terjangkau. Sesaat ia merasa harus membuat suatu keputusan. Lalu, hatinya yang sekeras batu, sedikit demi sedikit mulai mencair. Ia kemudian percaya. Di dalam kesendiriannya di atas bus, ia akhirnya mengakui bahwa Yang Mutlak adalah Roh. Roh adalah Tuhan. Dan Lewis menjadi seorang percaya (theis).
Ia menulis pada temannya, "Aku menyerah. Aku mengaku Tuhan adalah Tuhan." Ia menggambarkan dirinya sebagai orang percaya yang paling enggan dan patah hati. Ia menulis kepada teman baiknya, "Hal-hal yang mengerikan sedang terjadi kepada saya, sebaiknya Anda segera datang untuk menemui  saya, jika tidak saya mungkin akan masuk biara…"

Walaupun Lewis akhirnya menerima eksisnya Tuhan tetapi ia masih belum dapat memahami seluruh konsep tentang Kristus. Ia tidak dapat memahami bagaimana kehidupan dan kematian seseorang yang hidup 2000 tahun yang lalu dapat membantunya sekarang. Ia cukup mengenal Kekristenan untuk mengetahui bahwa teladan Kristus bukanlah jantung dari Kekristenan. Ia tahu bahwa ia harus menyakini bahwa darah Domba Allah itu telah menebusnya sekarang.
Lewis mendiskusikan dilemanya dengan Tolkien. Di suatu malam saat mereka berjalan-jalan di antara rusa dan pohon-pohon besar di taman, Lewis mengutarakan dilema yang dialaminya. 

Tolkien berkata, "Kekristenan adalah kebenaran, satu fakta historis."
"Jika saya tidak memahami makna penyaliban atau kebangkitan atau penebusan, bagaimana saya dapat percaya pada Kristus?" Lewis berdiskusi.
Tolkien yang tahu Lewis sangat menyukai naskah bukunya tentang Hobbit dan mitos, yang akhirnya diterbitkan sebagai trilogi, "Lord of the Ring", bertanya, "Anda sangat menyukai mitos, bukan?
"Tentu saja" jawab Lewis.
"Apakah Anda senang dengan unsur seorang tuhan yang mati namun hidup kembali?"
"Ya", aku Lewis, "tapi saya tidak tahu mengapa".
"Saya juga tidak," jawab Tolkien. "Mengapa Anda begitu menuntut kejelasan tentang Kekristenan? Terima saja fakta bahwa Kekristenan adalah mitos yang sesungguhnya terjadi."
"Tetapi mitos itu bohong," Lewis berargumentasi, "tidak ada nilainya, walaupun mitos begitu menyenangkan."
"Tidak," Tolkien berpendapat, "mitos yang Anda katakan bohong itu adalah mitos manusia, walaupun mereka mengandung sedikit kebenaran. Mitos yang sepenuhnya benar – kelahiran, kematian dan kebangkitan Kristus – adalah mitos Allah."
"Mungkin saya terlalu menuntut dari suatu misteri, tetapi bukankah percaya itu pada akhirnya adalah kasih karunia dari Allah?" Lewis menalar.

Seminggu setelah percakapan itu, Lewis dibonceng oleh kakaknya, Warnie untuk mengunjungi kebun binatang. Perjalanan ke kebun binatang itu hanya berjarak 50 km, tetapi bagi Lewis perjalanan itu menempuh jarak 2000 tahun. Lewis sendiri tidak dapat merumuskan proses atau alasan yang dapat menjelaskan tentang apa yang terjadi. Ia berkata, bahwa seolah-olah selama ini ia sedang tertidur lena dan tiba-tiba ia sadar dan bangun. Saat ia turun dari sepeda motor itu, ia percaya pada Kristus. Lewis dengan rendah hati menyimpulkan, "Itulah kasih karunia Tuhan". Pada waktu itu Lewis berusia 33 tahun.
Buku pertama yang ditulisnya setelah ia percaya adalah Pilgrim Regress  yang mendapat sambutan yang baik dari publik. Lewat buku-buku dan program-program radionya yang popular, Lewis banyak menyakinkan orang awam akan kebenaran Kekristenan. Tetapi Lewis juga sangat menyadari bahwa banyak orang tertarik dengan Kekristenan pada awalnya tetapi, setelah mereka mempelajarinya lebih dalam, mereka akan menolak dengan keras. Karena Kekristenan itu tidak mudah. Tuhan menuntut penyerahan yang total dan memperlihatkan kepada manusia akan jurang yang begitu besar antara daging dan yang supranatural. 

Untuk menyadarkan orang Kristen akan bahaya yang mengiringi perjalanan spiritual orang percaya, Lewis menulis 31 artikel yang akhirnya dibukukan menjadi The Screwtape Letters. The Screwtape Letters merupakan surat-surat dari seorang setan senior kepada setan junior, yang sedang belajar bagaimana untuk menghancurkan iman orang Kristen. Buku ini diterbitkan pada tahun 1942 dan Lewis mendedikasikan buku itu kepada Tolkien.
Pergumulan intelektual Lewis dari seorang ateis menjadi seorang percaya membuatnya calon yang tepat untuk menulis tentang apologetika atau mempertahankan iman Kekristenan. Lewis akhirnya menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang sering dipakainya untuk menantang orang-orang percaya. Buku yang berjudul The Problems of Pain yang bertujuan untuk menjelaskan penderitaan kemudian menerima sambutan yang hangat di kalangan orang awam. Ia berkata kepada kakaknya, "Saya harus menyakinkan pembaca bahwa saya menganjurkan Kekristenan bukan karena saya menyukainya atau karena itu baik bagi masyarakat, tetapi karena Kekristenan adalah kebenaran. Hal ini memang terjadi. Suatu fakta sentral dalam keberadaan kita!" Dari seseorang yang keras menolak kebenaran, Lewis kemudian menjadi seseorang yang tidak tergoyahkan dalam keyakinannya akan kebenaran dan eksistensi Tuhan.

(Artikel berdasarkan buku berjudul "C.S. Lewis, Creator of Narnia" oleh Sam Wellman, 1997.)

Semangat yang Tak Terkalahkan

Tas sudah dikemas dan saya sudah tidak sabar untuk memasuki fasa baru kehidupan saya. Kakak saya mengajak,  "Ayo Joni, mari kita renang." Lalu saya mengikutinya ke pantai. Terdapat satu rakit yang berlabuh tidak jauh dari pantai. Saya langsung berenang ke arah rakit itu dan naik ke atas. Pikir saya air di situ dalam, jadi tanpa berpikir panjang saya langsung terjun.
Sesaat kemudian kepala saya menghantam dasar laut, dan tubrukan yang keras itu langsung mematahkan tulang leher saya. Tidak ada rasa sakit, tetapi saya tahu sesuatu yang mengerikan sudah terjadi, karena saya merasakan seolah-olah tangan saya terpisah dari tubuh saya. Dalam waktu sedetik, seluruh kehidupan saya berubah total.
Kecelakaan ini menimpa Joni Earekson Tada ketika ia berusia 17 tahun. Sejak itu Joni lumpuh dari bagian leher dan hidupnya harus dijalani di atas kerusi roda. Dari seorang remaja yang aktif dan atletis, sekarang ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa tanpa dibantu. Dua tahun pertama, hari-harinya dijalani di rumah sakit dan pusat rehabilitasi, ia mengalami depresi dan kekecewaan. Baginya hidupnya sudah tamat. "Saya depresi. Saya patah semangat. Malam-malam tertentu saya akan dengan keras coba menghantam kepala saya di bantal dengan harapan saya dapat membunuh diri. Saya mau mati. Saya juga berpikir jika saya ditinggalkan di atas kerusi roda yang dapat dikemudi sendiri, saya akan menuju ke tempat tinggi dan terjun dari situ."
Banyak teman-teman dari gereja yang mengunjungi dan coba menghibur saya. Salah satu ayat Alkitab yang diberikan kepada saya oleh teman saya adalah dari Perjanjian Baru, 1 Tesalonika 5:18, "Dalam segala hal, bersyukur, karena inilah kehendak Tuhan dan Yesus Kristus bagi-mu." 

Jawab saya, "Apa, Anda pasti bercanda. Saya tidak merasa bersyukur untuk ini. Sama sekali tidak. Teman saya berkata, "Joni, dengarlah. Tidak dikatakan Anda harus merasa bersyukur. Mempercayai Tuhan tidak ada kaitannya dengan perasaan mempercayai. Dikatakan di sini adalah bersyukur. Jadi, Ambillah langkah iman dan lakukanlah." Ini permulaan dari pergumulan panjang bagi Joni untuk menerima situasinya.
Suatu malam, saat saya terlantar sendirian di rumah sakit, saya membuat satu keputusan. Saya berkata, "Tuhan, jika saya tidak dapat mati, tolonglah tunjukkan kepada saya bagaimana saya harus hidup, karena saya tidak suka dengan kelumpuhan ini. Saya tidak siap. Saya tidak tahu suatu apa pun tentang kelumpuhan. Itu bukan hal yang saya bayangkan untuk kehidupan saya. Tuhan, jika memang saya tidak dapat mati, tunjuklah kepada saya bagaimana saya harus hidup."
Dan selama 39 tahun Tuhan dengan setia sudah menunjukkan kepada Joni bagaimana ia harus hidup. Joni sudah melakukan jauh lebih banyak dari orang yang sehat tubuh jasmaninya. Membaca kisah hidupnya mau tidak mau kita harus menyimpulkan bahwa semangat juangnya yang tak terkalahkan dan sikap hatinya yang benar dalam hubungannya dengan Tuhan merupakan kunci bagi pencapaian dan keberhasilannya.
Walaupun Joni tidak dapat menggerakkan bahkan jari di tangannya tetapi jutaan orang sudah digerakkan lewat teladan kehidupannya. Walaupun tangan dan kakinya tidak berfungsi tetapi terpenjara di dalam tubuhnya adalah jiwa dan akal budi yang merupakan anugerah dari Tuhan. Joni sudah menulis lebih dari 35 buah buku dan program radionya disiarkan di lebih dari 1000 stasiun dengan pendengar yang berjumlah jutaan orang. Lewat organisasi Joni and Friends yang didirikannya, Joni menjangkau ribuan penyandang cacat di Amerika dan seluruh dunia. Pada tahun 2005 Joni dilantik oleh Pemerintah Amerika menjadi anggota Komite yang menasihati Sekretaris Negara Condoleeza Rice mengenai kebijakan dan program yang berkaitan dengan penyandang-penyandang cacat di Amerika dan di seluruh dunia.

 Katanya "Penderitaan telah membuat saya lebih peka terhadap luka dan penderitaan orang lain."

Apakah Joni tidak merasa lemah dan depresi? Apakah mudah baginya untuk menjalani seluruh kehidupannya dalam keadaan lumpuh itu? Setiap pagi seorang temannya akan membantu Joni mandi, memakaikan pakaiannya, menyisir rambutnya, menyikat gigi, membersihkan ingusnya dan menempatkannya di atas kerusi roda. Terdapat hari-hari di mana mata saya masih terpejam dan saya berpikir, "Tuhan, saya tidak punya kekuatan untuk ini. Saya tidak dapat menghadapi ini. Saya tidak dapat - saya tidak bisa. Saya tidak punya senyuman untuk diberikan kepada teman yang akan membantu saya ini. Tapi Tuhan, Engkau punya kekuatan. Engkau punya kuasa. Dapatkah saya meminjam senyuman Engkau? Dan saat teman wanita saya masuk ke kamar saya dengan secangkir kopi dan menyapa saya "Selamat pagi." Saya dapat memberinya senyuman yang telah saya perjuangkan tadi, yang telah saya menangkan dari surga. 

Setiap pertempuran dengan kedagingan kita, dimenangkan di tingkat hati. Jika sikap kita benar otomatis kita punya kekuatan untuk berbuat benar. Bahkan bagi Joni yang sudah begitu ajaib dipakai Tuhan, ia tetap harus terus mempertahankan sikap hati yang benar di hadapan Tuhan, bagaimana dengan kita?

(Sumber: Larry King Interview CNN  6 Aug 2004, Joni and Friends Website)

KESAKSIAN PUAN MAHARANI (TRAGEDI TSUNAMI ACEH)

Dear All,
Perkenalkan saya Puan,
Saya udah lama nimbrung di Al-Islah Online, tapi pas kasih kesaksian ini komentarku nggak ditampilin, jadi aku mau kasih kesaksianku ini di situs Kristen aja.
Sekedar cuma supaya tahu aja, aku ini anak korban tsunami aceh. Aku dijadikan anak angkat sama mama dan papa dari keluarga Kristen. Sebaliknya aku dulunya bisa dibilang nggak beragama (Islam KTP doang).
Mama dan Papa kasih kebebasan sama aku, mau beragama Kristen atau Islam terserah. Kata Mama, meski aku nggak mau masuk Kristen, kelak aku juga akan turut diselamatkan oleh Tuhan berkat orang tua Puan. Mereka menafsirkan ayat Alkitab yang ditulis Rasul Paulus (1 Korintus 7:10-16) bahwa anak-anak akan selamat berkat orang tuanya yang percaya sama Tuhan Yesus.
Tadinya aku bingung, aku mau pilih Islam atau Kristen. Setelah baca-baca di Al-Islah, aku juga sempat interaksi dengan Bapak-bapak di sana, sama Om Robert, Om Duladi, Om Bravo, Kak Saiful, Om Romadi, dll.
Kini, hati Puan udah bulat tekadnya. Puan menyatakan masuk Kristen.
Berikut ini adalah pendapat Puan mengapa kok Puan lebih memilih Kristen:
Kami di surga nanti akan tetap bersama dalam satu keluarga, tidak akan ada yang dipisahkan.
Karena menurut mama, Tuhan Yesus tidak picik. Tuhan Yesus penuh kasih. Demi melihat mama dan papa yang begitu tulus percaya dan taat kepada Tuhan, maka Tuhan pun akan menyelamatkan saya walaupun saya tidak percaya kepadaNya. (Tapi kini Puan udah percaya)
Ini juga doa syafaat mama dan papa. Mama dan papa sangat percaya bahwa Tuhan tidak mungkin memisahkan salah satu dari kami, sebagian di surga dan sebagian yang lain ditempatkan di neraka. Sesuatu yang rasanya nggak adil, dan Puan yakin Tuhan tidak sekejam itu. (Sangat beda dengan tuhan dalam agama Islam)
Mereka begitu yakin, bahwa kami sebagai satu keluarga akan tetap abadi dan selalu bersama sampai di surga nanti, tidak akan terpisahkan.
Hati saya menjadi iba. Begitu baikkah Tuhan pada saya? Sedemikian besarkah sifat kasih Tuhan kepada saya? Saya jadi ingin menangis rasanya. Saya merasa diri saya tidak pantas diperlakukan demikian. Tuhan di mata saya begitu baik dan penuh kasih.
Dan kalau saya bandingkan dengan Tuhan dalam agama Islam, sepertinya sangat berbeda. Tuhan yang ada dalam agama Islam sangat kejam dan suka mengutuk manusia masuk neraka. Ada banyak sekali ayat-ayat kitab suci Alquran yang isinya kutukan-kutukan neraka jahanam dan siksa-siksa pedih di dunia dan di akhirat.
Juga saya dapati, bahkan terhadap kesalahan-kesalahan yang bagi saya tidak begitu adil, misalnya gara-gara menentang Rasulullah SAW saja, manusia harus disiksa di dunia dan di akhirat. Yesus saja walaupun dirinya dipukuli dan dicambuki, Yesus tidak membalas dan tidak mengutuk. Betapa berbedanya nabi Muhammad SAW dengan Yesus.
Begitu juga tentang ayat Alquran yang mengatakan kalau laki-laki di surga nanti akan dikaruniai istri-istri baru.
Saya jadi kasihan sama Mama, kalau memang begitu jadinya di surga, lalu bagaimana dengan Mama? Mama mau dikemanakan?
Saya yakin Papa tidak akan tega mengkhianati Mama. Di dunia ini saja, Papa begitu sayang sama Mama. Kalau di surga nanti Papa diberi istri-istri baru, Mama tentu akan sakit hati dan nelangsa.
Dan saya jadi ragu, bagaimana mungkin Tuhan kok seperti itu? Ini rasanya tidak adil dan hanya mengumbar nafsu laki-laki saja.
Saya juga jadi lebih tahu seperti apa agama Islam itu sebenarnya setelah buka-buka situsnya Om Duladi di mengenal-islam.t35.com.
Maka dari itu, saya putuskan dalam hati saya, mulai kini saya menerima Tuhan Yesus dan bersedia patuh dan taat menjalankan perintahNya. Tuhan dalam agama Kristen begitu menyentuh hati saya, dan menurut saya, DIA itulah Tuhan yang benar.
Kepada Bapak-bapak Muslim dan Bapak-bapak Kristen di situs ini maupun Al-Islah, saya ucapkan banyak terima kasih atas bimbingan dan petunjuk kalian selama ini.
Terutama kepada Om Robert dan Om Duladi yang begitu tulus dalam memberikan jawaban-jawaban atas pertanyaan saya. Saya mohon doa kalian agar saya bisa menjadi seorang Kristen yang sejati, dan juga agar bisa berguna bagi orang tua, masyarakat dan negara.
NB.
Di mata Puan, semua agama baik (Islam, Kristen, Hindu, dll). Puan yakin, pasti semua agama di dunia mengajarkan kebaikan buat para penganutnya. Cuman khusus untuk agama Kristen, lebih pas deh di hati Puan. Menurut pendapatku agama Kristen lebih murni 1000% (nggak ada yang bertentangan dengan hati nurani) dibandingkan agama-agama lain.
Hormat saya,
Puan Maharani – Lhokseumawe

Surat Kedua:

Dear,
Puan sudah yatim piatu sejak umur 5 tahun dan sebelum malapetaka (tsunami) hidup Puan merana (tinggal bersama nenek yang seorang diri juga). Ketika itu Puan bisa bersekolah sampai SMP berkat bantuan dari Pemerintah.
Nenek Puan meninggal secara mengerikan akibat malapetaka itu.
Itu masa lalu Puan… Puan nggak mau mengingatnya lagi…
Di hati Puan, cuma ada Mama dan Papa (orang tua angkat). Mereka sangat baik dan cinta banget sama aku.
Puan berusaha lupakan masa lalu, kata teman-teman aku trauma. Tapi terlepas trauma atau tidak, kini Puan merasa bahagia dan Puan sayang sama Mama dan Papa.
Puan nggak perlu berpanjang lebar, ini adalah hidup Puan, dan Puan sudah memilih jalan yang menurut Puan adalah BENAR.
Teman-teman Puan sering menuduh Puan telah dikristenisasi oleh ortu. Bagi Puan, Kristenisasi atau bukan Kristenisasi itu nggak penting. Karena bagi Puan, Kristen adalah Kebenaran Sejati. Kristen tidak pernah mencelakakan orang lain. Kristen adalah agama yang baik dan penuh kasih.
Puan selalu berusaha menjelaskan kepada teman-teman kalau pun Kristenisasi itu ada, Kristenisasi adalah untuk MENYELAMATKAN bukan untuk MENCELAKAKAN seperti yang disangkakan teman-teman Puan yang Muslim.
Orang yang menolak Kristenisasi adalah orang yang hatinya beku karena belum kenal siapa Tuhan Yesus yang sebenarnya.
Justru Islamisasi itulah yang membuat orang celaka karena hanya ngajarin rasa benci. Contohnya artikel “ada apa di Poso” yang ditampilkan di al-islahonline.com. Trus satunya lagi, kalau nggak salah “kisah paderi Malaysia masuk Kristen”. Sebagian besar isinya jelek-jelekkin agama Kristen.
Trus fitnah-fitnah Alquran terhadap agama Kristen juga sempat ditayangkan sama Om Robert, tapi nggak pernah dijawab sama Bapak-bapak Muslim.
Tapi sesungguhnya ajaran Islam yang membuat Puan paling tidak suka adalah mengenai anugerah istri-istri baru untuk laki-laki di surga nanti.
Puan yakin, ini salah. Nggak mungkin lha seperti itu. Kalau Tuhan berbuat begitu, bagaimana dengan Mama? Mama mau dikemanakan? Mengapa perasaan wanita begitu dikesampingkan demi nafsu syahwat laki-laki? Sepertinya wanita cuma dijadikan media pelampiasan nafsu saja tapi nggak pernah dihargai perasaannya. Puan nggak sudi kawin sama pria Islam, Puan muak!
Sudah jelas kalau pria Islam itu egois, apalagi mereka sangat suka sekali kawin, atau dibolehkan sama nabi Muhammad untuk poligami. Sewaktu Bapak-bapak Kristen di Al-Islah protes, Bapak-bapak Muslim pada marah dan ibu Ummu juga marah-marah. Puan jadi heran, kenapa poligami begitu dibela mati-matian? Padahal itu merugikan kaum perempuan.
Cinta sejati hanya bisa dipelajari dari kitab agama Kristen. Dari kitab suci Alquran, Puan nggak dapat apa-apa selain Puan diajari untuk benci sama orang Kristen dan Israel. Di Alquran, orang-orang Kristen atau Israel disebut kafir. Karena orang kafir dilaknat sama Tuhan, mereka adalah calon penghuni neraka, maka mereka boleh diperlakukan sewenang-wenang. Benar kata Om Duladi, Alquran isinya cuma kebencian. Makanya nggak heran kalau pulau Bali pernah dibom sama orang Muslim. Pendeta di Sulawesi juga pernah ditembak sewaktu kotbah. Anak-anak Kristen pernah dipotong lehernya di Poso. Puan ingin ikut bergabung sama Om Duladi untuk menguak Islam yang sebenarnya. Puan kasihan sama teman-teman Puan yang Muslim, karena mereka kebanyakan nggak tahu Islam yang sebenarnya. Dikiranya Islam itu agama yang baik. Thanks Om Duladi dan Om Robert! Puan sedang mengoleksi ayat-ayat kitab suci Alquran yang Puan rasa jahat dan tidak layak disebut firman Tuhan. Nanti kalau sudah selesai, Puan akan kasih lewat email kepada Om Duladi, mudah-mudahan bisa menambah koleksi artikel di situsnya Om.
NB. Tulisan ini juga puan kirim ke alamat emailnya Om Duladi.
-Puan Maharani-

Tambahan:

Puan juga berharap Tuhan akan menyelamatkan orang tua kandung Puan sehingga kami (keluarga Puan yang sekarang dan ortu asli Puan) dapat hidup bersama di surga nanti.
Puan sangat yakin dan percaya kalau Tuhan tidaklah picik. Demi Puan yang tulus menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dan akan mengabdikan hidup Puan untuk Tuhan, saya yakin Tuhan tidak akan tega memasukkan orang tua asli Puan ke dalam siksaan (neraka).
Seperti Mama dan Papa yang begitu percaya kalau Puan (sebelum bertobat) pasti akan diselamatkan oleh Tuhan berkat Mama dan Papa yang percaya sama Tuhan Yesus, Puan kini juga percaya kalau ortu Puan yang sudah meninggal kelak juga akan dibangkitkan kembali untuk memperoleh hidup kekal di dalam surga demi Puan yang kini sudah mau percaya kepada-Nya. Bacalah 1 Korintus 7:12-16. Ajaran seperti ini tidak ada dalam agama Islam. Menurut Puan, ini adalah ajaran yang sungguh mulia dan menunjukkan betapa Tuhan memang Maha Pengasih dan Maha Penyayang (Maaf, saya menolak komentar Kak Saiful, karena menurut Puan Tuhan dalam agama Islam terlalu otoriter dan egois. Puan tidak akan memanfaatkan kebaikan Tuhan itu dengan menjalankan politik yang Kak Saiful ajarkan. Puan memilih Kristen bukan hanya karena surga, tetapi karena Puan sudah melihat sendiri bahwa dalam Kristen ada kebenaran, sebaliknya dalam Islam Puan banyak menemukan hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani).
Tuhan yang benar adalah Tuhan yang penuh Rakhmat dan Kasih Karunia (begitu kita-kira kata Om Robert) dan saya sudah merasakan kasih Tuhan itu.
Tuhan lebih dahulu memberikan kasih karuniaNya kepada manusia, dan kini sudah menjadi kewajiban manusia untuk membalas kebaikan Tuhan yang tiada terbatas itu dengan menjalani hidup kudus (saya sudah menyerap kata-kata Om Duladi). Dengan menerapkan hukum kasih, kita akan dijauhkan dari perbuatan dosa.
Saya bisa berdoa dan berkomunikasi dengan Tuhan kapan pun dan dengan menggunakan bahasa saya sendiri, karena segala bahasa adalah milik Tuhan. Sungguh nggak masuk akal apabila Tuhan pakai bahasa Arab (saya sudah memahami penjelasan Om Bravo).
Saya menyadari keberdosaan saya, dan saya harus senantiasa merendahkan diri dan memuliakan Tuhan dalam setiap tingkah laku dan perbuatan saya sehari-hari. Saya sebenarnya tidak layak mendapatkan kasih sayang Tuhan, tetapi Tuhan berkenan untuk mengasihi saya dan membolehkan saya hidup sampai pada hari ini. Saya tahu, tsunami dapat saja membunuh saya, tetapi Tuhan rupanya punya rencana lain untuk hidup saya.
Thx
-Puan Maharani-

Back to Top